Tempo.Co

Tempo.Co

Sinergi Bekraf pada Subsektor Kuliner
Rabu, 19 Juli 2017 | 09:00 WIB
Food Startup Indonesia (FSI) Demoday Bandung: Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Muhammad Neil El Himam, Deputi Akses Permodalan Bekraf Fadjar Hutomo, Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik, Sekretaris Utama Bekraf Mesdin Kornelis Simarmata, Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy Berawi, Deputi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi Bekraf Ari Juliano Gema, dan Direktur Hubungan Antar Lembaga Luar Negeri Rossalis Rusman Adenan saat menjelaskan peran dan program Bekraf terkait subsektor kuliner di Grand Mercure hari ini (17/7). (Bekraf)

Bandung, 17/7/2017, 50 pengusaha rintisan (startup) subsektor kuliner memadati ballroom Hotel Grand Mercure pada hari pertama penyelenggaraan Food Startup Indonesia (FSI) Demoday Bandung. FSI Demoday Bandung yang diselenggarakan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) memilih ke 50 startup kuliner tersebut dari 135 pitchdeck dan lebih dari 700 pendaftar. Bekraf memiliki enam deputi yang memiliki program pada subsektor kuliner. Deputi Akses Permodalan Bekraf sebagai penyelenggara acara menghadirkan Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik, Sekretaris Utama Bekraf Mesdin Kornelis Simarmata, dan perwakilan ke enam deputi Bekraf untuk menjelaskan peran dan program Bekraf pada subsektor kuliner. Wakil Kepala Bekraf Ricky Joseph Pesik mengucapkan selamat kepada 50 startup terpilih FSI Demoday Bandung. Ricky menambahkan subsektor kuliner 40% lebih cenderung dominan karena bisnis kuliner terus tumbuh di seluruh Indonesia. “Mimpi kita bersama membesarkan startup Indonesia lebih besar lagi. Semoga dalam FSI kali ini kita bisa melahirkan pelaku kuliner unggul,” tegas Ricky. Deputi Riset, Edukasi dan Pengembangan Bekraf Abdur Rohim Boy Berawi menjelaskan peran deputinya pada subsektor kuliner, antara lain penyusunan grand strategy di bidang kuliner sebagai data acuan dalam penyusunan program kegiatan, workshop pengemasan produk, dan coding mum yaitu pelatihan bagi ibu-ibu rumah tangga untuk menjadi programmer sebagai tambahan keahlian dan mengembangkan usaha. “Salah satu kurangnya daya saing produk kuliner kita adalah pengemasan. Oleh karena itu, Bekraf membuat pelatihan di berbagai wilayah di Indonesia,” ungkap Boy. Deputi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan Regulasi Bekraf Ari Juliano Gema menambahkan program fasilitasi HKI subsektor kuliner. “Kita tahu bahwa dari 11 jutaan pelaku ekraf, baru 11% yang punya HKI. Makanya kita, deputi saya, mencoba mengatasi hal tersebut dengan bantuan teknis sampai kita beri bantuan finansial. Sehingga, dia (pelaku ekonomi kreatif) tidak perlu mengeluarkan biaya untuk HKI yang cocok,” ucap Ari. Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah yang diwakilkan oleh Direktur Hubungan Antar Lembaga Luar Negeri Rossalis Rusman Adenan menjelaskan peran deputinya mendukung deputi lain berhubungan dengan lembaga lain. Rossalis mengatakan bahwa Bekraf melalui deputinya telah menandatangani 40 MoU dengan kabupaten, kota, maupun provinsi serta beberapa dengan pihak Luar Negeri, misalnya Inggris, Korea Selatan, Australia, Italia, dan Thailand. “D6 (Deputi Hubungan Antar Lembaga dan Wilayah) juga mendapatkan tugas terkait satu pintu. Satu pintu adalah program Bekraf membantu seluruh pelaku ekraf untuk memanfaatkan potensi yang ada untuk kami fasilitasi,” jelas Rossalis. Deputi Infrastruktur Bekraf yang diwakili oleh Direktur Fasilitasi Infrastruktur TIK Muhammad Neil El Himam menambahkan kebutuhan teknologi pada subsektor kuliner. “TIK lebih ke teknologinya, berarti peralatannya. Kita juga ada Bekup, Bekraf for pre-Startup. Tapi, dua tahun ini seluruhnya digital. Karena ini food, kita mulai kerjasama dengan D2 (Deputi Akses Permodalan) dengan produk non digital. Kita lebih ke ifrastrukturnya,” tambah Neil. Sekretaris Utama Bekraf menegaskan inovasi terus menerus yang diperlukan para startup subsektor kuliner. “Saya ingin mendorong teman-teman kita semua ini. Jangan bosan dan terus menemukan,” tegas Mesdin. (mm)